Sering kali aku mencuri pandang kepadamu. Anehnya, jika kamu balas
memandangku, aku segera memalingkan muka dan menyibukkan diri dengan
berpura-pura mencatat sesuatu.
Sering kali aku mencuri-curi
waktu untuk bisa melihat senyummu. Anehnya, jika kamu tersenyum
kepadaku, bibirku terasa kaku untuk membalas senyummu itu.
Sering kali aku mencoba menyapamu. Anehnya, nyaliku selalu ciut jika melihat dirimu.
Aku tak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Jatuh cinta kah aku kepadamu? Mungkin.
Sungguh
aku begitu menikmati proses ini. sebuah proses yang kadang membuat
semangatku meledak-ledak, namun bisa juga meruntuhkannya seketika.
Bukannya mencintai seseorang itu wajar?
Ya, aku ingin menikmatinya.
Cukup aku mencintamui dalam diam… bukan karena membenci hadirmu…tapi menjaga untuk kesucian
bukan karena menghindari dunia…tapi meraih surga-Nya
bukan karena lemah untuk menghadapinya…tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..
Cukup aku mencintaimu dengan kesederhanaan… memupuknya hanya akan menambah penderitaan
menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan
mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan…
Maka
aku mencintaimu dengan keikhlasan karena tentu kisah fatimah dan ali
bin abi thalib diingini oleh hati…tapi sanggupkah jika semua berakhir
seperti sejarah cinta Salman Al Farisi…?
jadi mengingatkanku akan ayat-Nya
“
…boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat burukbagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. AlBaqarah:216)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar